Kamis, 16 Februari 2017

FENOMENA HUJAN DARAH, LAUT, SUNGAI DAN DANAU YANG BERUBAH MERAH DARAH



Banyak badan-badan air dipenjuru dunia yang dilaporkan berubah menjadi merah telah memicu opini orang bahwa Akhir Zaman telah dekat. Dari laut hingga sungai, banyak badan air yang tampaknya menjadi merah dalam semalam. Dengan gambar-gambar yang menakjubkan dan banyak dari peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di tahun 2012, semakin membuat heboh isu kiamat yang telah muncul di tahun itu. Namun, Seperti yang kita ketahui, kiamat tidak terjadi di tahun 2012! Ada penjelasan lain selain tanda akan datang kiamat yang menjelaskan fenomena-fenomena badan air berwarna darah tersebut.


Dibawah ini beberapa berita mengenai badan-badan air yang berubah merah seperti yang dikutip dariversesofuniverse.blogspot.com
LAUT YANG MEMERAH

Laut di Pantai Bondi, Australia

Peristiwa yang tampaknya aneh ini menyebabkan penutupan sementara pantai Bondi di Sydney Australia. Air laut di pantai secara perlahan tapi pasti berubah menjadi memerah di suatu hari di akhir bulan november 2012. Wisatawan terkejut dan takut karena mengira warna merah itu adalah darah dari serangan hiu, tapi tidak ada serangan hiu yang terjadi saat itu.

Peristiwa laut yang memerah itu sebenarnya adalah sebuah fenomena alam yang sudah dikenal. Fenomena alam ini disebabkan oleh alga, organisme kecil seperti tanaman yang berkembang dalam kelompok besar, yang dapat muncul dalam berbagai warna. Alga dapat mengalami ledakan populasi (blooming) yang spektakuler.
Alga yang dikenal sebagai Dinoflagellata itu tidak memiliki efek toksik tetapi orang-orang masih disarankan untuk menghindari berenang di daerah dengan air berubah warna karena ganggang, dapat mengandung amonia yang tinggi, yang bisa menyebabkan iritasi kulit.
Kantor Air New South Wales (NSW) telah melakukan serangkaian tes untuk menemukan apa yang menyebabkan ledakan populasi alga tersebut. Satu teori adalah bahwa hal itu disebabkan oleh aliran air dingin yang kaya nutrisi. Seorang juru bicara mengatakan bahwa blooming alga di laut yang kadang-kadang disebut sebagai ‘pasang merah’, lebih umum terjadi sekitar musim semi dan musim gugur ketika suhu air meningkat dan ada pergerakan yang lebih besar dalam arus laut. Sejumlah besar ikan diyakini telah tewas karenanya.

Laut Azov Rusia


Pada pertengahan Juli tahun 2012 warga di sekitar perairan Laut Azov juga terkejut dan bingung melihat air laut dekat dengan desa Berdyansk berubah menjadi merah darah. Penduduk desa segera menduga itu disebabkan oleh polusi besar dari pabrik-pabrik di dekatnya. Sedangkan penduduk setempat yang lebih tua memperingatkan bahwa itu mungkin sebuah pertanda akan peristiwa buruk akan datang. Namun para ilmuwan mengatakan bahwa alasan yang paling mungkin untuk warna laut merah darah adalah alga yang tidak berbahaya bagi manusia. Para peneliti menjelaskan bahwa warna merah terang dari laut adalah hasil dari naiknya suhu, yang menyebabkan mekar ganggang coklat. Angin barat daya menyapu alga mekar lebih dekat ke pantai.


Laut di Shenzhen, Guangdong, China


Pada akhir November 2014, fenomena laut yang memerah juga terjadi Shenzhen, Provinsi Guangdong China. yang memicu kepanikan di pantai Cina. Penduduk desa ketakutan saat mereka bangun di hari itu, dan menemukan laut telah berubah merah dalam semalam. Beberapa penduduk desa awalnya mengira ada perenang yang telah dibunuh oleh hiu atau mungkin, Hari Kiamat tiba.

Tapi penyebab sebenarnya adalah ledakan populasi alga yang merubah warna laut menjadi merah tua atau coklat gelap ketika mereka bereproduksi di satu daerah dalam jumlah besar.Baca juga mengenai pantai merah panjin disini

Laut di Pulau Tonga


Penduduk di pulau Tonga di Pasifik juga terkejut melihat air laut di pantai mereka berubah memerah di awal januari 2015. Peristiwa ini sama dengan yang terjadi di australia diatas yaitu fenomena Pasang Merah yang adalah ledakan populasi alga dinoflagellata. Namun pemicunya berbeda dengan yang di australia, pasang merah di Tonga ini dipicu oleh letusan gunung berapi bawah laut Hunga Ha’apai.


Sebuah blooming alga terjadi ketika ada peningkatan mendadak dalam jumlah ganggang di dalam air karena naiknya tingkat nitrogen dan fosfor. Nah, kenaikan ini dapat disebabkan oleh letusan gunung bawah laut. Biasanya, ini menyebabkan air berubah menjadi hijau, tetapi efeknya juga menyebabkan warna merah dan kuning. Secara khusus, mekar dari ganggang dinoflagellata menyebabkan air berubah menjadi berwarna merah darah.

Laut di Maluku Tengah, Indonesia


Warga Pulau Ai, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, juga pernah digegerkan dengan fenomena perubahan warna air laut di kawasan tersebut, pada pertengahan Juni 2015 lalu. Warga geger dan panik lantaran air laut di wilayah tersebut tiba-tiba saja berubah menjadi merah.

Kondisi ini membuat warga yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan itu enggan melaut seperti biasanya. Warga mengaku memilih tidak melaut karena takut terjadi sesuatu. Fenomena itu pun menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat yang mendiami pulau kecil di gugusan Kepulauan Banda itu. Warga beranggapan, air laut yang tiba-tiba berubah seperti darah itu pertanda bahwa sesuatu akan terjadi.

Red Tide
Namun sebenarnya fenomena itu adalah fenomena red tide atau pasang merah. Red tide merupakan perubahan air laut menjadi merah yang disebabkan oleh ledakan populasi alga merah, jenis alga yang sel-selnya kaya pigmen phycoerythrin.

Jika jumlahnya sedikit, tidak akan kelihatan merah. Tapi, ketika terjadi blooming yang dalam 1 ml bisa berisi ribuan-jutaan sel, maka akan sangat jelas terlihat dengan mata telanjang.
Penyebab ledakan populasi alga bisa beragam, mulai dari melimpahnya nutrien di laut atau yang disebut eutrofikasi hingga pemanasan global. Suhu air laut yang meningkat akibat pemanasan global memicu peningkatan metabolisme sel alga. Akibatnya, kecepatan pembelahan atau reproduksi alga juga meningkat.
Jika ganggang atau alga sudah membelah cepat, maka akan mendominasi dan perairan ‘berubah’ menjadi merah, atau hijau, coklat, atau lainnya.
Ledakan populasi alga dalam kondisi tertentu, memang bisa memicu bencana bagi perikanan dan nelayan. Alga dalam jumlah besar akan membuat stok oksigen di perairan berkurang. Dampaknya, banyak ikan akan mati.
Blooming bisa terjadi pada alga jenis apa pun. Kadang, alga yang mengalami blooming adalah jenis yang beracun dan tidak mengakibatkan perubahan warna menjadi merah. Bila ini terjadi maka racun dari alga bisa meracuni biota laut lain, bahkan membunuh manusia. Salah satu cara mengatasi blooming alga beracun adalah dengan menebar serbuk kimia untuk menekan pertumbuhannya. Namun, cara itu tak ramah dan hanya memindahkan masalah ke dasar laut.
SUNGAI YANG MEMERAH

Sungai di Beirut, Libanon

Hal senada juga pernah menimpa Sungai Beirut (Nahr Bayrut) di Lebanon pertengahan Februari 2012. Sungai secara misterius berubah warna jadi merah darah setelah aliran cairan merah tak dikenal mulai mengalir dari tepian selatan Sungai Furn al-Shubbak. Air merah itu lalu mengalir ke Laut Mediterania, hingga warnanya memudar.

Saksi mata yang bekerja di area dekat sungai mengatakan, peristiwa itu bukan kali pertamanya. Kira-kira terjadi tiap 2 bulan tanpa ada yang memperhatikan. Namun, kali itu, karena intensitas warna merah yang kuat, fenomena itu menarik perhatian banyak orang. Jadi heboh.
Menteri Lingkungan Nazem Khoury menduga, sumber air merah itu kemungkinan adalah limbah pabrik, termasuk pabrik cat yang ada di kota Hazmieh atau Baabda .

Sungai Yangtze, China



Fenomena aneh juga terjadi di aliran Sungai Yangtze, sungai terpanjang di China. Airnya tiba-tiba berubah merah serupa warna jus tomat, jika dianggap terlalu berlebihan jika disamakan dengan darah.

Penduduk barat daya Kota Chongqing kali pertama menjumpai keanehan pada sungai yang dijuluki “jalur air emas” itu pada 6 September 2012. Air berwarna merah terang itu tak hanya terkonsentrasi di sekitar Chongqing, pusat industri terbesar di barat daya China, tetapi juga di sejumlah titik lain di sepanjang sungai.
Pejabat lingkungan menduga, warna air menjadi merah disebabkan limbah industri. Atau mungkin disebabkan lumpur merah yang terbawa oleh banjir di hulu. Air yang berubah warna menjadi merah dengan cepat pernah terjadi di masa lalu. yaitu akibat orang membuang limbah pewarna ke dalam sungai.
Limbah pewarna sebelumnya juga menjelaskan mengapa aliran air sungai di Jian, China berubah merah tua Desember 2011. Para penyelidik menelusuri jejak warga hingga mengarah ke pabrik kimia ilegal yang memproduksi pewarna merah untuk pembungkus kembang api.

Sungai di Kota Myjava, Slovakia


Di pagi hari awal bulan desember 2013, warga kota Myjava, Slovakia, dekat perbatasan Republik Ceko, terkejut melihat sungai di kota mereka berubah menjadi merah. Tak hanya warnanya yang terlihat mengerikan. Sungai itu berubah drastis hanya dalam semalam. Kabar pun menyebar luas dari mulut ke mulut. Rumor dan spekulasi berhembus di kota kecil yang biasanya tenang itu.

Namun kepolisian kota itu mendugabahwa penyebab berubahnya warna air sungai itu berasal dari saluran pembuangan yang berada di wilayah yang lebih hulu.

Sungai di Bontang Kaltim, Indonesia


Di Bulan Februari 2014 Masyarakat Kota Bontang digemparkan dengan fenomena memerahnya warna air sungai di Tanjung laut, Bontang Selatan, Kalimantan Timur (Kaltim). Sebagian warga ada yang ketakutan, sebagian lagi malah mengambilnya untuk dijadikan azimat.

Dilaporkan bahwa sejak pagi, warna air sungai menuju laut itu sudah berubah menjadi oranye. Semakin siang, warnanya semakin pekat atau persis seperti darah. Warnanya makin terlihat waktu air pasang. Banyak yang mengira air itu limbah dari perusahaan-perusahaan besar yang ada di Bontang. Tapi ada juga yang mengira air sungai berubah merah tanpa bau itu adalah tanda-tanda mau kiamat
Hasil penyelidikan Polresta Kota Bontang akhirnya menguak bahwa merahnya air sungai di sekitar Tanjung Laut, Kota Bontang, berasal dari limbah pencucian drum bekas pewarna pupuk.

Warna Air Sungai di Bontang Berubah Misterius Menjadi Merah Darah


 Air di sebuah anak sungai di Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Selatan, kota Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (11/2/2014), bikin heboh warga karena berwarna merah. Warna air sungai yang tidak wajar ini masih menyimpan misteri.

"Iya benar memerah. Kita belum bisa memastikan warna merah di sungai itu menjadikan sungai tercemar atau tidak. Lurah dan petugas Badan Lingkungan Hidup masih di lokasi untuk mengecek," kata Kabag Humas Pemkot Bontang, Suryanto, ketika dihubungi, Selasa (11/2/2014).

Suryanto menyebut memerahnya sungai itu baru diketahui jajaran Pemkot Bontag sekitar pukul 16.30 WITA tadi. Berbagai foto gambaran sungai tersebut bahkan sudah menyebar luas di jejaring sosial.

"Apa dan bagaimana terkait itu akan kita sampaikan segera," ujar Suryanto.

Dikonfirmasi detikcom terpisah, Kabag Operasional Polres Bontang Kompol Eko Soeroso menerangkan jajaran kepolisian juga telah mengetahui kondisi sungai tersebut. Dari penyelidikan awal, muncul dugaan bahwa memerahnya sungai akibat tumpahan cat.

"Dugaan sementara itu cat. Sementara kami juga masih menyelidiki, berbagai keterangan tengah dilakukan kepolisian," kata Eko.

"Dari keterangan salah satu warga disebutkan bahwa warga di sekitar sungai usai membeli drum bekas dari sebuah perusahaan besar di Bontang. Di dalam drum itu masih ada zat-zat larutan karena warga itu membersihkan drumnya di sungai," tambahnya.

Meski demikian, sambung Eko, kepolisian tidak tinggal diam. Tim identifikasi bersama Sucofindo telah mengambil sampel dari lokasi sungai untuk meneliti kadungan zat dari larutan tersebut sehingga mengakibatkan sungai memerah.

"Tim identifikasi Polres Bontang dan Sucofindo sudah ambil sampel. Diteliti untuk mengetahui larutan dari drum bekas itu mengandung zat berbahaya atau tidak. Hasilnya akan segera kita ketahui," tutup Eko. 

Foto-foto yang memperlihatkan kondisi sungai di kota Bontang, beredar di jejaring sosial sejak siang tadi. Dari foto tersebut terlihat sungai memerah itu juga berada di kawasan pemukiman penduduk. Warga Bontang terlihat menyaksikan keanehan warna air sungai itu.

Fenomena Aneh, Air Hujan “Darah” Gemparkan Aceh Selatan

Warga masyarakat Dusun Pasi Tuan Ilang, Desa Desa Sawang I Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Minggu (10/5/2012) dini hari, sekira pukul 05.30 WIB, dikejutkan dengan turunnya air hujan berwarna merah di rumah Tgk Muyus (50) dan Tgk Samdani (47) warga desa setempat.

Fenomena aneh itu diketahui keduanya ketika melihat air hujan yang ditampung di dalam ember di cucuran rumah mereka ternyata berwarna tak lazim. Dalam sekejap temuan menghebohkan itupun menyebar ke masyarakat sekitar. Warga yang merasa penasaran pun langsung berduyun-duyun menyerbu rumah tersebut untuk menyaksikan langsung fenomena hujan merah dimaksud.

Warga melihat Air hujan berwarna merah yang ditampung di dalam ember
di rumah Tgk Muyus (50) dan Tgk Samdani (47) warga Dusun Pasi Tuan Ilang,
Desa Desa Sawang I, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan, Minggu (10/5).

Pengakuan warga sekitar, kejadian aneh itu baru pertama kali terjadi di daerah tersebut kendatipun akhir-akhir ini hujan lebat disertai angin kencang terus mengguyur kawasan dimaksud.
“Baru kali ini kami melihat air hujan berwarna merah, sebelumnya kejadian seperti ini tidak pernah terjadi,” tutur salah seorang warga yang turut menyaksikan kejadian itu saat ditanyai wartawan.

Kapolsek Sawang, AKP Samsul Anwar yang dihubungi terpisah membenarkan dua rumah di Dusun Pasi Tuan Ilang, Desa Desa Sawang I Kecamatan Sawang, diguyur hujan berwarna merah.

“Benar air hujan di dua rumah itu berwarna merah, tapi bukan hujan darah,” jelasanya singkat.

Kali di Belakang RSUD Jombang Ini Berubah Jadi Merah Darah


Hii...Kali di Belakang RSUD Jombang Ini Berubah Jadi Merah Darah

Sejumlah warga Jombang, Jawa Timur, siang ini dihebohkan dengan perubahan air kali yang tiba-tiba menjadi merah darah. Kali tersebut berada persis di belakang RSUD Jombang.

Siswo, salah satu warga yang tinggal di dekat sungai itu mengatakan, warna merah mulai terlihat sekitar pukul 11.00 WIB, Senin (24/11/2014). "Saya juga bingung kenapa bisa merah. Di belakang RSUD juga setahu saya tidak ada pabrik," ucap Siswo yang mengirimkan foto kali itu ke pasangmata.com.

Warga sekitar juga heran dengan perubahan ini. Menurut Siswo berubahnya warna sungai ini baru pertama kali terjadi.

"Biasanya warna sungainya agak kecokelatan," ujarnya.

Tidak ada bau amis atau bau bahan kimia yang tercium dari perubahan air sungai yang menjadi merah itu. Hingga pukul 13.30 WIB, aliran sungai yang berwarna merah ini sudah menyebar sepanjang 100 meter dan menuju hulu sungai utama.

"Warnanya bukan hilang, tapi sekarang malah tambah panjang," jelas Siswo.

Belum ada petugas yang memeriksa perubahan air yang berwarna mirip darah ini. "Petugas belum ada yang mengecek," terangnya.

Warga Gempar di Maluku Tengah, Warna Air Laut Berubah Jadi Merah seperti Darah



Air laut di Pulau Ai, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah tampak berubah seperti darah. fenomena ini pun menggemparkan warga di Pulau itu, Minggu (21/6/2015)

AMBON, KOMPAS.com — Warga Pulau Ai, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, digegerkan dengan fenomena perubahan air laut di kawasan tersebut, Minggu (21/6/2015). Warga geger dan panik lantaran air laut di wilayah tersebut tiba-tiba saja berubah menjadi merah.
Kondisi ini membuat warga yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan itu enggan melaut seperti biasanya. Warga mengaku memilih tidak melaut karena takut terjadi sesuatu.
Salah satu tokoh masyarakat setempat, Ahmad Ali, mengatakan kepada Kompas.com saat dihubungi dari Ambon bahwa perubahan air laut dari kebiruan menjadi merah seperti darah membuat warga pesisir di pulau itu kini merasa sangat khawatir. Warga khawatir karena kejadian itu baru pertama disaksikan.
"Hampir semua masyarakat di pulau ini dibuat geger saat melihat air laut berubah seperti darah," kata Ahmad.
Fenomena itu pun menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat yang mendiami pulau kecil di gugusan Kepulauan Banda itu. Warga beranggapan, air laut yang tiba-tiba berubah seperti darah itu pertanda bahwa sesuatu akan terjadi.
"Ini pasti pertanda sesuatu akan terjadi, tetapi kita belum tahu apa yang akan terjadi. Semoga bukan pertanda bahaya," kata Alwi, salah satu warga lain.
Perubahan air laut menjadi seperti darah ini spontan membuat warga pesisir yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan di pulau itu memilih tidak melaut dan hanya beraktivitas di rumah.
"Tidak ada yang berani melaut. Kami sendiri takut ke laut karena memang air lautnya seperti darah," katanya.
Tak hanya warga Pulau Ai, fenomena perubahan air laut menjadi seperti darah itu juga memicu kehebohan tersendiri di media sosial, seperti Facebook. Salah satu pengguna akun Facebook bernama Salman bahkan berspekulasi bahwa perubahan itu adalah pesan kepada warga pulau itu agar lebih berhati-hati.

"Air laut berubah seperti darah. Ini sebuah pertanda agar warga lebih hati-hati pada bulan puasa ini," kata Salman.

Update: Warna merah di perairan bisa disebabkan dua hal. Menurut peneliti alga dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Boy Rahardjo Sidharta, kalau bukan pkarena encemaran kimiawi berupa zat warna, pasti itu fenomena red tide atau booming pertumbuhan ganggang dengan pigmen merah.

Sungai di Zhejiang, China


Pada akhir bulan Juli 2014, penduduk desa Xinmeizhou di propinsi Zhejiang, China, dibuat heran melihat sungai di desa mereka berubah menjadi merah gelap, dan berbau aneh. Mekipun banyak penduduk yang tak tahu mengapa air sungai mereka berwarna merah seperti itu, namun pemerintah

Cina mengatakan ada penjelasan sederhana untuk peristiwa tersebut. Badan Perlindungan Lingkungan Wenzhou mengatakan hasil tes menunjukkan bahwa air sungai tersebut berubah merah karena ilegal dumping, dari pewarna buatan yang kemungkinan berasal dari industri pakaian.
DANAU YANG MEMERAH

Danau di Texas Barat Amerika Serikat


Sebuah danau di Texas Barat, Amerika Serikat berubah warna menjadi merah darah di musim panas 2011. Waduk OC Fisher di San Angelo State Park, yang sebelumnya populer sebagai tempat memancing dan rekreasi, mengering, meninggalkan debit air dalam jumlah yang stagnan, dipenuhi ikan mati. Warnanya berubah menjadi merah buram. Mirip warna darah.

Untuk orang-orang yang meyakini kiamat sebentar lagi, berpendapat, fenomena di OC Fisher adalah pertanda akhir dunia.
Namun pejabat yang mengurusi taman margasatwa membantahnya. Menurut mereka, warna darah dikarenakan bakteri Chromatiaceae yang berkembang dalam air yang kehilangan oksigen, dan tak ada kaitan dengan kiamat.”
Musim panas saat itu, Texas memang mengalami kekeringan luar biasa, sekitar 75 persen wilayah ini mengalami kemarau parah, demikian menurut data Badan nasional Mitigasi Kekeringan

Danau di Camargue, Perancis


Pada pandangan pertama, mungkin terlihat seperti tanda kiamat – tapi para ilmuwan mengatakan danau yang berubah warna menjadi merah darah di Perancis selatan sebenarnya fenomena alam.

Camargue, Perancis adalah sebuah delta sungai di mana sungai Rhône bertemu dengan laut. Daerah yang indah ini adalah rumah bagi banyak dataran garam, dan konsentrasi garam ini yang kadang-kadang akan merubah warna air yang biasanya biru menjadi merah. Baca juga mengenai danau di Turki yang memerah saat musim panas disini

Danau Vui di Ambae Vanuatu


Pada Bulan Mei 2006 penduduk desa di Ambae, salah satu pulau yang membentuk negara Pasifik Vanuatu, membuat penemuan mengejutkan. Air danau kawah yang bertengger diatas sebuah gunung berapi aktif setinggi 1.500 meter, yang sebelumnya berwarna toska, tiba-tiba berubah merah terang.

Tidak ada yang tahu kapan tepatnya danau itu berubah merah, tapi penduduk desa mengetahui perubahan warna pada 21 Mei dan melaporkan penemuan mereka tiga hari kemudian.




Danau Vui sebelum berubah merah

Penduduk desa tidak pernah menjumpai danau itu berubah warna sebelumnya, tetapi ada legenda, cerita nenek moyang mereka, air berubah merah, kemudian hitam. Menurut legenda itu berarti perang.
Perubahan warna ini secara tentatif dikaitkan dengan perubahan cepat keadaan redoks air danau. Perubahan mungkin terkait dengan rasio SO2 / H2S dalam cairan hidrotermal. Ada pula yang mengusulkan bahwa perubahan tersebut karena adanya intrusi oksida-oksida besi.
Begitulah fenomena-fenomena dari laut, sungai dan danau yang memerah. Pada dasarnya jika laut yang memerah, itu adalah blooming alga, sedangkan jika sungai yang memerah, biasanya adalah polusi manusia atau lumpur merah. Sedangkan jika danau yang memerah, biasanya adalah kadar garam yang tinggi, aktivitas vulkanik atau mikroorganisme.

Jadi apakah itu ada kaitannya dengan pertanda kiamat? Kiamat bisa terjadi kapan saja, besok, setahun lagi atau ratusan tahun lagi tak ada yang tahu kapan pastinya. Yang terpenting adalah bekerjalah seperti kiamat akan terjadi ribuan tahun lagi dan beribadahlah seakan kiamat akan terjadi esok hari

=======================================================================
TURIS DI AUSTRALIA MELARIKAN DIRI SAAT PANTAI BONDI DAN PANTAI CLOVELLY BERUBAH MENJADI 'LAUT MERAH'

- Pantai ditutup karena alasan kesehatan, tetapi beberapa orang tetap memberanikan diri berenang di pantai
- Sejumlah besar ikan diyakini telah mati
- Ini adalah kejadian ke-9 air di sungai, danau, laut dan bahkan hujan berubah menjadi MERAH DARAH dalam kurun waktu 18 bulan terakhir di 9 lokasi yang berbeda di dunia   

Yehezkiel 32:6 Bumi Kuberi minum darahmu yang mengalir, ya, juga gunung-gunung; dan alur-alur sungai akan penuh dengannya. 

Wahyu 8:8 Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah, 

Wahyu 16:4 Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah.

The crimson tide: Tourists in Australia flee as Bondi Beach turns into the 'Red Sea' because of rare algae bloom

  • Beaches closed over health fears but some swimmers are braving the water
  • Phenomenon caused when tiny plants flourish due to unusual conditions
  • They can appear in various colours often with spectacular results 
  • Algae is high in ammonia which can cause skin rashes and eye irritation 
  • Large numbers of fish are believed to 
  • have perished

Tourists heading for world-famous Bondi Beach were left high and dry today after a rare natural phenomenon turned the water blood red.
Bondi was among several popular beaches in and around Sydney, Australia, which had to be closed after a huge algae bloom transformed the sea into something resembling a scene from a Jaws movie. 
But despite the warnings a number of intrepid beachgoers were seen venturing into the water and swimming through the red surface, Ten News Sydney reported.
Scroll down for video


Bloodbath: An intrepid swimmer heads towards a patch of red algae bloom off the coast of Sydney, Australia, where the rare natural phenomenon has turned the water the colour of blood


Bloodbath: An intrepid swimmer heads towards a patch of red algae bloom off the coast of Sydney, Australia, where the rare natural phenomenon has turned the water the colour of blood


A red wave breaks off Sydney's Bondi Beach, one of several around Sydney which had to be closed due to the rare algae bloom


Closed: A red wave breaks off Sydney's Bondi Beach, one of several around Sydney which had to be closed due to the rare algae bloom
The natural phenomenon is caused when algae, a plant-like organism flourishes and large groups of the miniscule plants, which can appear in various colours, gather together often with spectacular results.

Known as Nocturnal Scintillans or sea sparkle it has no toxic effects but people are still advised to avoid swimming in areas with discoloured water because the algae, which can be high in ammonia, can cause skin irritation.
British tourists were among large groups of visitors who were told by lifeguards not to enter the water until the all-clear was given because the algae can irritate the skin and cause other health problems.
Ken Roberts, 23, from Birmingham, England said: ‘Perhaps I’m just in the wrong country – I thought the Red Sea was somewhere in Asia.’


A mother and her child look out over the 'Red Sea' of Sydney's Clovelly beach. Despite health warnings a number of defiant swimmers were seen venturing into the water


A mother and her child look out over the 'Red Sea' of Sydney's Clovelly beach. Despite health warnings a number of defiant swimmers were seen venturing into the water


High and dry: Several popular beaches around Sydney including Bondi and Clovelly (pictured) had to be shut after the  algae, known as Nocturnal Scintillans or sea sparkle, flourished


High and dry: Several popular beaches around Sydney including Bondi and Clovelly (pictured) had to be shut after the algae, known as Nocturnal Scintillans or sea sparkle, flourished


Tomato soup: While the red algae has no toxic effects people are still advised to avoid swimming in areas with because it can be high in ammonia which can cause skin irritation


Tomato soup: While the red algae has no toxic effects people are still advised to avoid swimming in areas with because it can be high in ammonia which can cause skin irritation


Tourists and locals are hoping that the algae will have dissipated by the weekend, when temperatures are expected to reach 40c
Tourists and locals are hoping that the algae will have dissipated by the weekend, when temperatures are expected to reach 40c


Tourists and locals are hoping that the algae will have dissipated by the weekend, when temperatures are expected to reach 40c
Local lifeguard Bruce Hopkins said: 'It has quite a fishy smell to it.
'It makes the water look like it has a coating of tomato-sauce coloured oil.’
The algae has already disappointing thousands who had headed to the coast to cool off as the summer Down Under finally gets under way of a prolonged cold period.
The New South Wales (NSW) Office of Water has been carrying out a series of tests to discover what caused the bloom.
One theory is that it was caused by an upwelling of colder nutrient-rich water.


A gull stands in the discoloured water of Clovelly Beach. Large numbers of fish are believed to have perished from the effects of the algae


A gull stands in the discoloured water of Clovelly Beach. Large numbers of fish are believed to have perished from the effects of the algae


A swimmer sticks to the safety of a pool as the algae transforms the surrounding sea. Tests are underway to find out what cause the phenomenon


A swimmer sticks to the safety of a pool after the algae transformed the surrounding sea. Tests are underway to find out what caused the phenomenon
A spokesman said that the blooms, sometime referred to as 'red tides', are more common around spring and autumn when the water temperature is higher and there are greater movements in ocean currents.
Large numbers of fish are believed to have perished from the effects of the algae.
A spokesman for the local council said red algae could be dangerous to some humans exposed to it.
‘There are some possible risks to human health including skin rashes and eye irritation and for this reason the beach will remain closed until the algae dissipates,’ he said.
Tourists and locals are hoping that the algae will have dissipated by the weekend, when temperatures are expected to reach 40c.
=======================================================================

Penjelasan Tuhan tentang Lautan Darah, Sungai Darah dan Hujan Darah


Seperti halnya sinkhole yang bertebaran terdapat di berbagai negeri, demikianpun lautan darah, sungai darah ada di mana-mana. Bahkan hujan darah pernah terjadi di beberapa negara. Ketika Tuhan sudah memproklamirkan bumi sedang berproses kiamat, diadakanlah tanda-tandanya. Dan tanda-tandanya yang sangat menakutkan adalah lautan darah, sungai darah dan hujan darah.
Air laut di pantai Bondi Australia berubah jadi darah. Sungai darah terdapat di Bontang Kalimantan Timur, Tarakan Kalimantan  Utara, di negara Slovakia, Beirut, sungai Yang Tse Tiongkok, danau di Texas Barat USA, dan Kanada. Sedangkan hujan darah selain di India, juga pernah terjadi di Pengalengan Jawa Barat, Aceh dan Kotechoco Columbia, Srilanka dan Inggris.
Dan adalah semacam kontradiksi alam ketika banyak sungai menjadi sungai darah, bahkan kolam dan danau. Adapun kontradiksi alam tak mungkin terjadi kecuali untuk menandakan datangnya kiamat.
Tidak ada kematian massal yang dapat mengakibatkan sungai-sungai, lautan, kolam dan danau yang airnya berubah jadi darah segar, kecuali hal itu adalah tanda-tanda zaman yang sudah dinubuahkan. Adapun nubuah itu terdapat di Kitab Suci Injil Surat Wahyu 16 ayat 3-4. Daripadanya ada keniscayaan lautan dan sungai darah teradakan oleh Tuhan sendiri, tentunya dengan suatu maksud, yaitu untuk menyatakan Murka-Nya.
Kitab Suci Injil Surat Wahyu 16 ayat 3:
  1. Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut;/ maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati/ dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.
Dikiaskan ada malaikat yang disebut sebagai malaikat kedua menumpahkan cawannya ke atas laut, maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati, dan matilah segala yang bernyawa yang hidup di dalam laut. Dan apa yang membuat malaikat menuangkan cawannya ke laut dan menjadilah darah?
Itu karena Tuhan murka terhadap percobaan nuklir di laut yang menyebabkan segala macam jenis ikat di laut tewas secara massal. Dan juga pengeboman-pengeboman nelayan di laut untuk mendapatkan kemudahan menjaring ikan-ikan di laut. Dan Tuhan murka atas peperangan-peperangan yang terjadi di dunia sehingga banyak orang yang mati, tewas karena peperangan.
Demikian itulah yang dimaksudkan dengan kalimat “seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.”
Kitab Suci Injil Surat Wahyu 16 ayat 4:
  1. Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah.
Dan malaikat ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah. Demikian telah terjadi sungai-sungai yang airnya berubah jadi darah, sedangkan mata-mata air yang airnya berubah jadi darah belum dikabarkan ada kejadiannya. Namun bilamana sudah dinubuahkan, niscaya akan terjadi. Dan kalau ada mata air terbit dari dalam bumi, tapi yang diterbitkan adalah darah, hal itu sungguh sangat menakutkan. Demikian murka Allah telah dinubuahkan oleh Surat Wahyu ayat 3-4.

========================================================================

AIR MENJADI DARAH

ada peristiwa menarik yaitu warna air sungai di Bontang di Kalimantan Timur berubah menjadi merah darah. Kasus air menjadi berwarna merah darah juga terjadi di beberapa tempat di dunia karena polutan yang mencemari lingkungan.
Bagaimanapun juga, itu adalah peringatan sebelum Tuhan menumpahkan cawan murka yang membuat laut, sungai-sungai dan mata-mata air menjadi darah.
Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut. Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah. (Wahyu 16:3,4)
Pada waktu itu segala yang bernyawa yang hidup di dalamnya akan mati, seperti yang terjadi ketika Tuhan menurunkan tulah atas Mesir membuat air di sungai Nil dan di semua tempat menjadi darah.
Demikianlah Musa dan Harun berbuat seperti yang difirmankan TUHAN; diangkatnya tongkat itu dan dipukulkannya kepada air yang di sungai Nil, di depan mata Firaun dan pegawai-pegawainya, maka seluruh air yang di sungai Nil berubah menjadi darah; matilah ikan di sungai Nil, sehingga sungai Nil itu berbau busuk dan orang Mesir tidak dapat meminum air dari sungai Nil; dan di seluruh tanah Mesir ada darah. (Keluaran 7:20,21)
Peringatan ini masih sangat ringan dibandingkan dengan kejadian sebenarnya pada masa Tribulasi setelah Pengangkatan (Rapture). Sekarang adalah waktunya anak-anak Tuhan mempersiapkan diri dan keluarga menjadi "mempelai Allah" dengan kekudusan hidup dan menjadi pelaku kebenaran Firman dengan setia, sehingga tidak tertinggal (left behind) masuk dalam masa Kesukaran Besar (Tribulasi) yang melanda seluruh dunia.
Tetap semangat di dalam Firman Tuhan dan Langkah Iman.
GBU 
(Indriatmo)

* * * * *
Warna Air Sungai di Bontang Berubah Misterius Menjadi Merah Darah 
Saud Rosadi - detikNews/Selasa, 11/02/2014 18:02 WIB

Samarinda - Air di sebuah anak sungai di Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Selatan, kota Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (11/2/2014), bikin heboh warga karena berwarna merah. Warna air sungai yang tidak wajar ini masih menyimpan misteri.
"Iya benar memerah. Kita belum bisa memastikan warna merah di sungai itu menjadikan sungai tercemar atau tidak. Lurah dan petugas Badan Lingkungan Hidup masih di lokasi untuk mengecek," kata Kabag Humas Pemkot Bontang, Suryanto, ketika dihubungi, Selasa (11/2/2014).
Suryanto menyebut memerahnya sungai itu baru diketahui jajaran Pemkot Bontag sekitar pukul 16.30 WITA tadi. Berbagai foto gambaran sungai tersebut bahkan sudah menyebar luas di jejaring sosial.
"Apa dan bagaimana terkait itu akan kita sampaikan segera," ujar Suryanto.
Dikonfirmasi detikcom terpisah, Kabag Operasional Polres Bontang Kompol Eko Soeroso menerangkan jajaran kepolisian juga telah mengetahui kondisi sungai tersebut. Dari penyelidikan awal, muncul dugaan bahwa memerahnya sungai akibat tumpahan cat.
"Dugaan sementara itu cat. Sementara kami juga masih menyelidiki, berbagai keterangan tengah dilakukan kepolisian," kata Eko.
"Dari keterangan salah satu warga disebutkan bahwa warga di sekitar sungai usai membeli drum bekas dari sebuah perusahaan besar di Bontang. Di dalam drum itu masih ada zat-zat larutan karena warga itu membersihkan drumnya di sungai," tambahnya.
Meski demikian, sambung Eko, kepolisian tidak tinggal diam. Tim identifikasi bersama Sucofindo telah mengambil sampel dari lokasi sungai untuk meneliti kadungan zat dari larutan tersebut sehingga mengakibatkan sungai memerah.
"Tim identifikasi Polres Bontang dan Sucofindo sudah ambil sampel. Diteliti untuk mengetahui larutan dari drum bekas itu mengandung zat berbahaya atau tidak. Hasilnya akan segera kita ketahui," tutup Eko.
Foto-foto yang memperlihatkan kondisi sungai di kota Bontang, beredar di jejaring sosial sejak siang tadi. Dari foto tersebut terlihat sungai memerah itu juga berada di kawasan pemukiman penduduk. Warga Bontang terlihat menyaksikan keanehan warna air sungai itu.

Warna Air Sungai di Bontang Berubah Misterius Menjadi Merah Darah


Warna Air Sungai di Bontang Berubah Misterius Menjadi Merah Darah

Samarinda - Air di sebuah anak sungai di Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Selatan, kota Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (11/2/2014), bikin heboh warga karena berwarna merah. Warna air sungai yang tidak wajar ini masih menyimpan misteri.

"Iya benar memerah. Kita belum bisa memastikan warna merah di sungai itu menjadikan sungai tercemar atau tidak. Lurah dan petugas Badan Lingkungan Hidup masih di lokasi untuk mengecek," kata Kabag Humas Pemkot Bontang, Suryanto, ketika dihubungi, Selasa (11/2/2014).

Suryanto menyebut memerahnya sungai itu baru diketahui jajaran Pemkot Bontag sekitar pukul 16.30 WITA tadi. Berbagai foto gambaran sungai tersebut bahkan sudah menyebar luas di jejaring sosial.

"Apa dan bagaimana terkait itu akan kita sampaikan segera," ujar Suryanto.

Dikonfirmasi detikcom terpisah, Kabag Operasional Polres Bontang Kompol Eko Soeroso menerangkan jajaran kepolisian juga telah mengetahui kondisi sungai tersebut. Dari penyelidikan awal, muncul dugaan bahwa memerahnya sungai akibat tumpahan cat.

"Dugaan sementara itu cat. Sementara kami juga masih menyelidiki, berbagai keterangan tengah dilakukan kepolisian," kata Eko.

"Dari keterangan salah satu warga disebutkan bahwa warga di sekitar sungai usai membeli drum bekas dari sebuah perusahaan besar di Bontang. Di dalam drum itu masih ada zat-zat larutan karena warga itu membersihkan drumnya di sungai," tambahnya.

Meski demikian, sambung Eko, kepolisian tidak tinggal diam. Tim identifikasi bersama Sucofindo telah mengambil sampel dari lokasi sungai untuk meneliti kadungan zat dari larutan tersebut sehingga mengakibatkan sungai memerah.

"Tim identifikasi Polres Bontang dan Sucofindo sudah ambil sampel. Diteliti untuk mengetahui larutan dari drum bekas itu mengandung zat berbahaya atau tidak. Hasilnya akan segera kita ketahui," tutup Eko. 

Foto-foto yang memperlihatkan kondisi sungai di kota Bontang, beredar di jejaring sosial sejak siang tadi. Dari foto tersebut terlihat sungai memerah itu juga berada di kawasan pemukiman penduduk. Warga Bontang terlihat menyaksikan keanehan warna air sungai itu.

=====================================================================

Sungai di Beirut Lebanon Tiba-Tiba Berwarna Merah Darah!

Sungai Beirut secara misterius berubah menjadi berwarna merah darah pada pertengahan bulan Februari 2012 lalu, setelah aliran cairan merah tak dikenal itu mulai mengucur dari tepi selatan sungai di Furn al-Shubbak.
Sumber cairan berwarna merah itu belum diketahui, maka sungai tersebut terus mengalirkan air berwarna merah darah tersebut ke Laut Mediterania.
Pemerintah dan pejabat lokal bergegas ke tempat kejadian di persimpangan Chevrolet Furn al-Shubbak dalam upaya untuk menemukan saluran limbah yang membuang air berwarna merah tetapi mereka tidak dapat menemukan sumber tersebut. Tuduhan diperdagangkan antara pejabat dari kota di Hadath, Hazmieh, Sin al-Fil, Furn al-Shubbak dan Shiyah.
Saksi mata yang bekerja di daerah tersebut mengatakan kepada The Daily Star bukan pertama kalinya sungai telah berubah warna yang berbeda. Beberapa pemilik usaha di sekitar persimpangan Chevrolet mengatakan bahwa air berwarna mengalir ke sungai kira-kira setiap dua bulan tapi tidak ada yang memperhatikannya.
Itu adalah jumlah dan kecerahan cairan merah yang menarik perhatian banyak orang lewat dan juga para warga yang melewati jembatan yang berbeda di dalam kota. Menteri Lingkungan Nazem Khoury mengatakan bahwa sumber air itu mungkin dari wilayah Hazmieh atau Baabda.
“Saya menyerukan kepada kotamadya Hazmieh dan Baabda untuk bekerja sama dengan cepat untuk menemukan sumber dari polusi dan jenisnya itu,” kata Khoury dalam sebuah pernyataan.
Sebelumnya pada hari itu, Khoury mengirimkan tim lingkungan ke daerah itu untuk memeriksa air. Tim yang dipimpin oleh pejabat kementerian Bassam Sabbagh, mengambil sampel air untuk menentukan komposisi dan apakah terdapat polutan berbahaya.
Sampel akan diperiksa, karena laboratorium negara sudah ditutup pada saat sampel itu diambil. “Sampel yang kami ambil akan diperiksa besok (Kamis) pagi … dan kami akan tahu apakah itu darah dicampur dengan air atau beberapa jenis zat warna yang dicampur di dalamnya, “kata Sabbagh.
Kejadian serupa pernah terjadi di Cina, yaitu sungai Jian pada Desember 2011 lalu, setelah pabrik membuang pewarna merah ke sungai, yang terletak di provinsi Cina utara Henan.
Beberapa kota menggunakan pewarna non-toksik untuk mewarnai sungai pada acara-acara khusus. Di Chicago, sungai diberikan pewarna hijau setiap tahun dalam perayaan Hari St Patrick.
Menurut Sabbagh, hasil tes akan membantu menentukan apakah ada substansi yang merupakan polutan kimia atau darah dari rumah pemotongan di dekatnya.
“Pertama kami pikir itu darah, tetapi tampaknya seperti jenis pewarna yang dibuang oleh pabrik,” kata Sabbagh, yang juga mengatakan bahwa tes untuk menentukan jenis kimia akan diambil hasilnya dalam seminggu.
Sabbagh mengatakan kotamadya dan departemen lain harus membantu Kementerian Lingkungan Hidup dalam penyelidikan. “Kita perlu bantuan dari pejabat lokal untuk memiliki gagasan yang jelas dari jaringan limbah di kawasan itu,” katanya.
Menurut Sabbagh, yang memimpin kementerian Polusi Lingkungan dan Pengendalian, peta dari jaringan limbah akan membantu pejabat menemukan sumber air berwarna merah itu.
“Setelah menemukan sumber, itu akan menjadi hitungan jam untuk sampai ke pabrik dan daerah dimana air berwarna itu berasal,” kata Sabbagh menambahkan bahwa tindakan cepat akan diambil terhadap mereka yang bertanggung jawab untuk itu.
Saad Elias, penasihat menteri lingkungan, tidak menutup kemungkinan bahwa rumah jagal mungkin berada di balik warna merah.
“Setelah melalui beberapa fase menyembelih di rumah pemotongan hewan, mereka menyimpan sejumlah besar bagian darah dan hewan dalam wadah dan mereka mungkin telah membuangnya ke dalam kanal pembuangan kotoran, “kata Elias.
“Kementerian pasti akan menyelidiki hal ini karena peran kami adalah untuk mencegah polusi,” tambahnya.
Sementara itu, pejabat lokal di daerah ini menyatakan bahwa sebuah pabrik cat bisa bertanggung jawab atas insiden tersebut. “Ada beberapa pabrik cat di Hadath,” kata seorang pejabat dari kota Shiyah.
Sebagaian peneliti mencoba menentukan sumber dan sifat substansi di sungai, jaksa Beirut menugaskan Pasukan Keamanan Internal untuk memulai penyelidikan atas masalah tersebut.
Menteri lingkungan diberitahu pada Kamis bahwa hasil tes di tingkat pusat Hadath laboratorium telah keluar dan negatif untuk jejak darah.
Karena keterbatasan teknis di laboratorium Hadath, sampel telah dikirim ke laboratorium American University di Beirut (AUB) di mana tes bisa memakan waktu hingga seminggu, akan membantu menentukan apakah sumber dari warna merah adalah industri atau organik.
Namun para ahli dan pejabat keamanan masih mencoba untuk mengidentifikasi sumber yang tepat dan sifat dari zat yang mengubah sungai Beirut menjadi berwarna merah darah, meskipun penyelidikan awal menunjukkan pewarna menjadi pelakunya.
Sementara kontaminasi berlangsung lebih dari dari 24 jam, pemerintah dan pejabat setempat tidak dapat menemukan sumbernya, meninggalkan substansi merah untuk bercampur dengan air sungai dan kemudian mengalir ke Laut Mediterania.
Menurut sumber keamanan, penyelidikan atas insiden ini akan menantang dan akan sulit untuk menemukan sumber yang tepat dari dumping tersebut. “Pewarna merah itu mungkin dibuang oleh pabrik yang memproduksi kulit,” kata sumber itu kepada The Daily Star.
Setelah bagian dari proyek pembangunan kota, Sungai Beirut telah semakin menjadi rute kosong untuk limbah pembuangan setelah bertahun-tahun diabaikan oleh para pejabat.
Selama musim panas, orang dapat melihat air hanya beberapa inci, penuh dengan limbah. Tapi ketika musim hujan tiba setiap tahun, beberapa pabrik mengambil keuntungan dari air mengalir untuk membuang limbah industri tahunan mereka, kata seorang pejabat dari American University di Departemen Kesehatan Lingkungan Beirut.
“Industri menunggu musim dingin untuk melepaskan residu industri mereka ke laut Mediterania hingga aktifitas mereka berjalan terus tanpa diketahui ,” kata Mey Jurdi, profesor dan ketua di Departemen Kesehatan Lingkungan AUB itu.
Jurdi berpendapat bahwa berdasarkan kepadatan cairan yang terlihat di sungai, jelas bahwa limbah tersebut tidak menjalani pengobatan untuk menetralisir apapun. “Kontaminasi ini mungkin menjadi tinggi dan itu bisa memiliki konsekuensi bencana bagi lingkungan sekitarnya,” kata Jurdi.
Dia mengatakan bahwa setiap industri harus memiliki pengobatan penetralisir produk limbah sebelum membuangnya. Meskipun Jaksa Beirut menugaskan Pasukan Keamanan Internal untuk melakukan investigasi atas insiden yang berlangsung awal pekan itu, upaya pemerintah untuk mencari biang polusi mungkin telah terlalu lama.
Namun sampai saat ini misteri dari mana atau siapa yang membuat air berwarna merah di sungai Beirut tersebut, masih belum dapat diketahui. 

Wow!! Sungai di Beirut Lebanon Tiba-Tiba Berwarna Merah Darah!

Sungai Beirut secara misterius berubah menjadi berwarna merah darah pada pertengahan bulan Februari 2012 lalu, setelah aliran cairan merah tak dikenal itu mulai mengucur dari tepi selatan sungai di Furn al-Shubbak. Sumber cairan berwarna merah itu belum diketahui, maka sungai tersebut terus mengalirkan air berwarna merah darah tersebut ke Laut Mediterania.
Pemerintah dan pejabat lokal bergegas ke tempat kejadian di persimpangan Chevrolet Furn al-Shubbak dalam upaya untuk menemukan saluran limbah yang membuang air berwarna merah tetapi mereka tidak dapat menemukan sumber tersebut. Tuduhan diperdagangkan antara pejabat dari kota di Hadath, Hazmieh, Sin al-Fil, Furn al-Shubbak dan Shiyah.
Saksi mata yang bekerja di daerah tersebut mengatakan kepada The Daily Star  bukan pertama kalinya sungai telah berubah warna yang berbeda. Beberapa pemilik usaha di sekitar persimpangan Chevrolet mengatakan bahwa air berwarna mengalir ke sungai kira-kira setiap dua bulan tapi tidak ada yang memperhatikannya.
Itu adalah jumlah dan kecerahan cairan merah yang menarik perhatian banyak orang lewat dan juga para warga yang melewati jembatan yang berbeda di dalam kota. Menteri Lingkungan Nazem Khoury mengatakan bahwa sumber air itu mungkin dari wilayah Hazmieh atau Baabda.
“Saya menyerukan kepada kotamadya Hazmieh dan Baabda untuk bekerja sama dengan cepat untuk menemukan sumber dari polusi dan jenisnya itu,” kata Khoury dalam sebuah pernyataan.

Sungai di Beirut Libanon yang tiba-tiba berwarna merah darah dan sumbernya masih tak diketahui (pict:dailystar.com)
Sebelumnya pada hari itu, Khoury mengirimkan tim lingkungan ke daerah itu untuk memeriksa air. Tim yang dipimpin oleh pejabat kementerian Bassam Sabbagh, mengambil sampel air untuk menentukan komposisi dan apakah terdapat polutan berbahaya.
Sampel akan diperiksa, karena laboratorium negara sudah ditutup pada saat sampel itu diambil. “Sampel yang kami ambil akan diperiksa besok (Kamis) pagi … dan kami akan tahu apakah itu darah dicampur dengan air atau beberapa jenis zat warna yang dicampur di dalamnya, “kata Sabbagh.
Kejadian serupa pernah terjadi di Cina, yaitu sungai Jian pada Desember 2011 lalu, setelah pabrik membuang pewarna merah ke sungai, yang terletak di provinsi Cina utara Henan.
Beberapa kota menggunakan pewarna non-toksik untuk mewarnai sungai pada acara-acara khusus. Di Chicago, sungai diberikan pewarna hijau setiap tahun dalam perayaan Hari St Patrick.
Menurut Sabbagh, hasil tes akan membantu menentukan apakah ada substansi yang merupakan polutan kimia atau darah dari rumah pemotongan di dekatnya.
“Pertama kami pikir itu darah, tetapi tampaknya seperti jenis pewarna yang dibuang oleh pabrik,” kata Sabbagh, yang juga mengatakan bahwa tes untuk menentukan jenis kimia akan diambil hasilnya dalam seminggu.
Sabbagh mengatakan kotamadya dan departemen lain harus membantu Kementerian Lingkungan Hidup dalam penyelidikan. “Kita perlu bantuan dari pejabat lokal untuk memiliki gagasan yang jelas dari jaringan limbah di kawasan itu,” katanya.

(pict:dailystar.com)
Menurut Sabbagh, yang memimpin kementerian Polusi Lingkungan dan  Pengendalian, peta dari jaringan limbah akan membantu pejabat menemukan sumber air berwarna merah itu.
“Setelah menemukan sumber, itu akan menjadi hitungan jam untuk sampai ke pabrik dan daerah dimana air berwarna itu berasal,” kata Sabbagh menambahkan bahwa tindakan cepat akan diambil terhadap mereka yang bertanggung jawab untuk itu.
Saad Elias, penasihat menteri lingkungan, tidak menutup kemungkinan bahwa rumah jagal mungkin berada di balik warna merah.
“Setelah melalui beberapa fase menyembelih di rumah pemotongan hewan, mereka menyimpan sejumlah besar bagian darah dan hewan dalam wadah dan mereka mungkin telah membuangnya ke dalam kanal pembuangan kotoran, “kata Elias.
“Kementerian pasti akan menyelidiki hal ini karena peran kami adalah untuk mencegah polusi,” tambahnya.

(pict:dailystar.com)
Sementara itu, pejabat lokal di daerah ini menyatakan bahwa sebuah pabrik cat bisa bertanggung jawab atas insiden tersebut. “Ada beberapa pabrik cat di Hadath,” kata seorang pejabat dari kota Shiyah.
Sebagaian peneliti mencoba menentukan sumber dan sifat substansi di sungai, jaksa Beirut menugaskan Pasukan Keamanan Internal untuk memulai penyelidikan atas masalah tersebut.
Menteri lingkungan diberitahu pada Kamis bahwa hasil tes di tingkat pusat Hadath laboratorium telah keluar dan negatif untuk jejak darah.
Karena keterbatasan teknis di laboratorium Hadath, sampel telah dikirim ke laboratorium American University di Beirut (AUB) di mana tes bisa memakan waktu hingga seminggu, akan membantu menentukan apakah sumber dari warna merah adalah industri atau organik.
Namun para ahli dan pejabat keamanan masih mencoba untuk mengidentifikasi sumber yang tepat dan sifat dari zat yang mengubah sungai Beirut menjadi berwarna merah darah, meskipun penyelidikan awal menunjukkan pewarna menjadi pelakunya.
Sementara kontaminasi berlangsung lebih dari dari 24 jam, pemerintah dan pejabat setempat tidak dapat menemukan sumbernya, meninggalkan substansi merah untuk bercampur dengan air sungai dan kemudian mengalir ke Laut Mediterania.
Menurut sumber keamanan, penyelidikan atas insiden ini akan menantang dan akan sulit untuk menemukan sumber yang tepat dari dumping tersebut. “Pewarna merah itu mungkin dibuang oleh pabrik yang memproduksi kulit,” kata sumber itu kepada The Daily Star.
Setelah bagian dari proyek pembangunan kota, Sungai Beirut telah semakin menjadi rute kosong untuk limbah pembuangan setelah bertahun-tahun diabaikan oleh para pejabat.
Selama musim panas, orang dapat melihat air hanya beberapa inci, penuh dengan limbah. Tapi ketika musim hujan tiba setiap tahun, beberapa pabrik mengambil keuntungan dari air mengalir untuk membuang limbah industri tahunan mereka, kata seorang pejabat dariAmerican University di Departemen Kesehatan Lingkungan Beirut.
“Industri menunggu musim dingin untuk melepaskan residu industri mereka ke laut Mediterania hingga aktifitas mereka berjalan terus tanpa diketahui ,” kata Mey Jurdi, profesor dan ketua di Departemen Kesehatan Lingkungan AUB itu.
Jurdi berpendapat bahwa berdasarkan kepadatan cairan yang terlihat di sungai, jelas bahwa limbah tersebut tidak menjalani pengobatan untuk menetralisir apapun. “Kontaminasi ini mungkin menjadi tinggi dan itu bisa memiliki konsekuensi bencana bagi lingkungan sekitarnya,” kata Jurdi.
Dia mengatakan bahwa setiap industri harus memiliki pengobatan penetralisir produk limbah sebelum membuangnya. Meskipun Jaksa Beirut menugaskan Pasukan Keamanan Internal untuk melakukan investigasi atas insiden yang berlangsung awal pekan itu, upaya pemerintah untuk mencari biang polusi mungkin telah terlalu lama.
Namun sampai saat ini misteri dari mana atau siapa yang membuat air berwarna merah di sungai Beirut tersebut, masih belum dapat diketahui.
=====================================================================
Sungai Yangtze Tiba-tiba Berubah Jadi Merah Darah 

Senin, 10 September 2012 | 14:23 WIB
BEIJING, KOMPAS.com — Air sungai terpanjang di China, Sungai Yangtze, tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Para pejabat mengatakan, mereka tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Adalah warga kota barat daya Chongqing yang pertama kali melihat bahwa air Sungai Yangtze yang dijuluki "aliran air emas" ini berubah warna pada Kamis (6/9/2012) lalu.
Air sungai yang berwarna merah ini dilaporkan terjadi di Chongqing, yang merupakan pusat industri terbesar di barat daya China. Meski demikian, fenomena yang sama juga dijumpai di beberapa titik lain.
Pejabat lingkungan setempat menduga polusi industri dan lumpur yang dibawa oleh banjir baru-baru ini sebagai penyebab memerahnya air Sungai Yangtze. Namun, hal ini belum dapat dipastikan.
Emily Stanley, profesor limnologi (studi perairan tawar) di University of Wisconsin, mengatakan, "Ketika air berubah menjadi merah, yang dipikirkan oleh kebanyakan orang adalah air pasang merah. Tetapi, ganggang yang menyebabkan air pasang merah hidup di laut, bukan air tawar, sehingga sangat tidak mungkin hal ini terkait dengan fenomena itu."
Air tawar sesekali memang bisa berubah warna menjadi merah karena alasan biologis. Contoh, danau di Texas berubah merah di musim panas tahun lalu. Tetapi, hal ini paling sering disebabkan oleh bakteri yang menghasilkan warna dalam kondisi air yang kurang oksigen. Karena air sungai terus mengalir dan mengalami pengadukan, maka kondisi kekurangan oksigen jarang ditemui.
Setelah meninjau beberapa gambar sungai di Chongqing yang berwarna merah, Stanley menarik kesimpulan bahwa ini merupakan akibat yang ditimbulkan dari kegiatan manusia.
"Sepertinya ini fenomena polutan. Air secara cepat berubah menjadi merah di masa lalu karena orang telah membuang pewarna ke dalamnya," tutur Stanley.
Desember lalu, pewarna juga menyebabkan berubahnya air sungai lain di China, Jian, menjadi merah tua. Diketahui, ada pabrik ilegal yang memproduksi pewarna untuk bungkus kembang api.
Stanley mengungkapkan, lumpur merah memang bisa menyebabkan perubahan warna sungai. Namun, jika hal itu yang terjadi, maka Sungai Yangtze akan dipenuhi lumpur. Ia meyakini perubahan warna kali ini disebabkan oleh aktivitas manusia. 

Sungai Yangtze Tiba-tiba Berubah Jadi Merah Darah

BEIJING, KOMPAS.com — Air sungai terpanjang di China, Sungai Yangtze, tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Para pejabat mengatakan, mereka tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Adalah warga kota barat daya Chongqing yang pertama kali melihat bahwa air Sungai Yangtze yang dijuluki "aliran air emas" ini berubah warna pada Kamis (6/9/2012) lalu.
Air sungai yang berwarna merah ini dilaporkan terjadi di Chongqing, yang merupakan pusat industri terbesar di barat daya China. Meski demikian, fenomena yang sama juga dijumpai di beberapa titik lain.
Pejabat lingkungan setempat menduga polusi industri dan lumpur yang dibawa oleh banjir baru-baru ini sebagai penyebab memerahnya air Sungai Yangtze. Namun, hal ini belum dapat dipastikan.
Emily Stanley, profesor limnologi (studi perairan tawar) di University of Wisconsin, mengatakan, "Ketika air berubah menjadi merah, yang dipikirkan oleh kebanyakan orang adalah air pasang merah. Tetapi, ganggang yang menyebabkan air pasang merah hidup di laut, bukan air tawar, sehingga sangat tidak mungkin hal ini terkait dengan fenomena itu."
Air tawar sesekali memang bisa berubah warna menjadi merah karena alasan biologis. Contoh, danau di Texas berubah merah di musim panas tahun lalu. Tetapi, hal ini paling sering disebabkan oleh bakteri yang menghasilkan warna dalam kondisi air yang kurang oksigen. Karena air sungai terus mengalir dan mengalami pengadukan, maka kondisi kekurangan oksigen jarang ditemui.
Setelah meninjau beberapa gambar sungai di Chongqing yang berwarna merah, Stanley menarik kesimpulan bahwa ini merupakan akibat yang ditimbulkan dari kegiatan manusia.
"Sepertinya ini fenomena polutan. Air secara cepat berubah menjadi merah di masa lalu karena orang telah membuang pewarna ke dalamnya," tutur Stanley.
Desember lalu, pewarna juga menyebabkan berubahnya air sungai lain di China, Jian, menjadi merah tua. Diketahui, ada pabrik ilegal yang memproduksi pewarna untuk bungkus kembang api.
Stanley mengungkapkan, lumpur merah memang bisa menyebabkan perubahan warna sungai. Namun, jika hal itu yang terjadi, maka Sungai Yangtze akan dipenuhi lumpur. Ia meyakini perubahan warna kali ini disebabkan oleh aktivitas manusia.

Ada Juga Sungai ‘Darah’ di Cina!

Sebuah fenomena alam yang cukup mencengangkan kembali terjadi pada sebuah sungai di Huizhou, Cina. Sungai yang awalnya dikenal dengan kejernihan airnya tiba-tiba saja berubah warna menjadi merah darah!
red river china 1
Sungai di Huizhou, Cina yang awalnya dikenal dengan kejernihan airnya tiba-tiba saja berubah warna menjadi merah darah.
Lalu apakah warna ini berubah secara alami? Sayangnya tidak. Air sungai ini berubah warna menjadi merah darah karena adanya pencemaran polusi, padahal sebelumnya daerah ini dikenal sebagai objek wisata para turis.
red river china 2
Sungai di Huizhou, Cina ini juga pernah berubah warna menjadi biru pekat.
Perubahan warna ini awalnya terjadi pada 11 Mei 2014 lalu, di mana setelah terjadi hujan, seorang fotografer tak sengaja melihat air sungai yang awalnya jernih ini tiba-tiba saja berubah menjadi merah darah, kemudian ia mengunggahnya ke internet.
Pemerintah setempat pun hingga kini kabarnya meminta bantuan kepada para spesialis peneliti lingkungan untuk meneliti alasan kemungkinan perubahan warna sungai tersebut.
Menurut dugaan sementara, buangan limbah pabrik yang bereaksi dengan air hujan lah yang membuat warna merah darah tersebut terjadi.
Dan yang paling menyedihkan, kejadian ini ternyata bukan yang pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, sungai ini juga pernah berubah warna menjadi biru pekat, yang lagi-lagi diduga karena polusi. (dailystar/dreamersradio/icc.wp.com)

Sungai Yangtze Tiba-tiba Berubah Jadi Merah Darah


BEIJING, KOMPAS.com — Air sungai terpanjang di China, Sungai Yangtze, tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Para pejabat mengatakan, mereka tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Adalah warga kota barat daya Chongqing yang pertama kali melihat bahwa air Sungai Yangtze yang dijuluki "aliran air emas" ini berubah warna pada Kamis (6/9/2012) lalu.
Air sungai yang berwarna merah ini dilaporkan terjadi di Chongqing, yang merupakan pusat industri terbesar di barat daya China. Meski demikian, fenomena yang sama juga dijumpai di beberapa titik lain.
Pejabat lingkungan setempat menduga polusi industri dan lumpur yang dibawa oleh banjir baru-baru ini sebagai penyebab memerahnya air Sungai Yangtze. Namun, hal ini belum dapat dipastikan.
Emily Stanley, profesor limnologi (studi perairan tawar) di University of Wisconsin, mengatakan, "Ketika air berubah menjadi merah, yang dipikirkan oleh kebanyakan orang adalah air pasang merah. Tetapi, ganggang yang menyebabkan air pasang merah hidup di laut, bukan air tawar, sehingga sangat tidak mungkin hal ini terkait dengan fenomena itu."
Air tawar sesekali memang bisa berubah warna menjadi merah karena alasan biologis. Contoh, danau di Texas berubah merah di musim panas tahun lalu. Tetapi, hal ini paling sering disebabkan oleh bakteri yang menghasilkan warna dalam kondisi air yang kurang oksigen. Karena air sungai terus mengalir dan mengalami pengadukan, maka kondisi kekurangan oksigen jarang ditemui.
Setelah meninjau beberapa gambar sungai di Chongqing yang berwarna merah, Stanley menarik kesimpulan bahwa ini merupakan akibat yang ditimbulkan dari kegiatan manusia.
"Sepertinya ini fenomena polutan. Air secara cepat berubah menjadi merah di masa lalu karena orang telah membuang pewarna ke dalamnya," tutur Stanley.
Desember lalu, pewarna juga menyebabkan berubahnya air sungai lain di China, Jian, menjadi merah tua. Diketahui, ada pabrik ilegal yang memproduksi pewarna untuk bungkus kembang api.
Stanley mengungkapkan, lumpur merah memang bisa menyebabkan perubahan warna sungai. Namun, jika hal itu yang terjadi, maka Sungai Yangtze akan dipenuhi lumpur. Ia meyakini perubahan warna kali ini disebabkan oleh aktivitas manusia.
=====================================================================

Misteri... Horor Saat Sungai dan Danau Berubah Jadi `Kolam Darah

Roman Podbrezova sedang berolahraga pagi, jalan-jalan menyusuri jalan Kota Myjava, Slovakia, dekat perbatasan Republik Ceko. Saat melihat aliran sungai yang membelah pusat kota, pria 65 tahun itu kaget bukan kepalang.

Ia melihat air sungai berubah menjadi merah tua, mirip darah. "Aku tak mempercayai pandanganku saat itu," kata Roman, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Mail, 4 Desember 2013. "Sungai itu berwarna merah tua. Seperti adegan film horor, darah mengalir melalui pusat kota."

Tak hanya warnanya yang terlihat mengerikan. Sungai itu berubah drastis hanya dalam semalam.

"Benar-benar mengerikan. Kemarin malam aku lewat sungai itu dan airnya berwarna normal," kata warga yang lain.

"Kini, seperti ada seseorang menyembelih 1.000 perawan atau sesuatu. Aku tak percaya takhayul dan tak pernah ada pembantaian atau semacamnya di sini. Tapi, ini jelas tidak normal."

Kabar pun menyebar luas dari mulut ke mulut. Rumor dan spekulasi berhembus di kota kecil yang biasanya tenang itu.

Sementara, juru bicara kepolisian, Elena Antalova mengatakan, polisi bertindak menyelidiki fenomena itu.

"Kami sedang mencari sumber darah atau apapun yang menyebabkannya," kata dia. "Saat ini kami menduga, itu disebabkan ikan-ikan yang mati atau seseorang membuang cairan yang mengandung darah ke sungai."

Elena menambahkan, diduga cairan merah -- apapun itu -- berasal dari saluran pembuangan yang berada di wilayah yang lebih tinggi, di atas sebuah museum.

Sementara, limbah dari rumah pemotongan, yang letaknya lebih tinggi dari Sungai Myjava biasanya dipompa ke kolam penampung untuk disaring sebelum dilepaskan ke sungai.

Misteri Aliran 'Darah' Sungai Beirut 


















Hal senada juga pernah menimpa Sungai Beirut (Nahr Bayrut) di Lebanon pertengahan Februari 2012. Sungai secara misterius berubah warna jadi merah darah setelah aliran cairan merah tak dikenal mulai mengalir dari tepian selatan Sungai Furn al-Shubbak. Air merah itu lalu mengalir ke Laut Mediterania, hingga warnanya memudar.

Petugas sudah berusaha mencari saluran limbah yang bertanggung jawab membuang cairan merah itu, tapi tak menemukan apapun.

Saksi mata yang bekerja di area dekat sungai mengatakan, peristiwa itu bukan kali pertamanya. Kira-kira terjadi tiap 2 bulan tanpa ada yang memperhatikan. Namun, kali itu, karena intensitas warna merah yang kuat, fenomena itu menarik perhatian banyak orang. Jadi heboh.

Menteri Lingkungan Nazem Khoury menduga, sumber air merah itu kemungkinan dari Hazmieh atau Baabda .

"Saya menyerukan kepada pemerintah kota Hazmieh dan Baabda untuk bekerja sama, agar secepatnya menemukan sumber polusi," kaya Khoury dalam sebuah pernyataan yang Liputan6.com kutip dari Daily Star.

Bisa jadi cairan merah itu adalah limbah pabrik, termasuk pabrik cat. Atau darah hewan dari rumah jagal.

Danau Merah Dianggap Pertanda 'Kiamat'












Sebuah danau di Texas Barat, Amerika Serikat berubah warna menjadi merah darah di musim panas 2011.

Waduk OC Fisher di San Angelo State Park, yang sebelumnya populer sebagai tempat memancing dan rekreasi, mengering. Meninggalkan debit air dalam jumlah yang stagnan, dipenuhi ikan mati. Warnanya berubah menjadi merah buram. Mirip warna darah.

Untuk orang-orang yang meyakini kiamat sebentar lagi, berpendapat, fenomena di OC Fisher adalah pertanda akhir dunia.

Namun pejabat yang mengurusi taman margasatwa membantahnya. Menurut mereka, warna darah sama sekali tak ada kaitannya dengan mistis, tapi dikarenakan bakteriChromatiaceae yang berkembang dalam air yang kehilangan oksigen. "Ini memang mengejutkan," kata Charles Cruz, salah satu staf taman margasatwa, seperti dimuatLiveScience. "Tapi tak ada kaitan dengan kiamat."

Musim panas saat itu, Texas memang mengalami kekeringan luar biasa, sekitar 75 persen wilayah ini mengalami kemarau parah, demikian menurut data Badan nasional Mitigasi Kekeringan (NDMC). (Ein/Ndy)

Danau di Texas Berubah Jadi 'Kolam Darah'


Danau merah darah di Texas

VIVAnews -- Sebuah danau di Texas Barat, Amerika Serikat berubah warna menjadi merah darah di musim panas ini. Waduk OC Fisher di San Angelo State Park, yang sebelumnya populer sebagai tempat memancing dan rekreasi, mengering. Meninggalkan debit air dalam jumlah yang stagnan, dipenuhi ikan mati. Warnanya berubah menjadi merah buram. Mirip warna darah. 

Untuk orang-orang yang meyakini kiamat sebentar lagi berpendapat, fenomena di OC Fisher adalah pertanda akhir dunia. Namun pejabat yang mengurusi taman margasatwa membantahnya. Menurut mereka, warna darah sama sekali tak ada kaitannya dengan mistis, tapi dikarenakan bakteri Chromatiaceae yang berkembang dalam air yang kehilangan oksigen. "Ini memang mengejutkan," kata  Charles Cruz, salah satu staf taman margasatwa, seperti dimuat LiveScience, 1 Agustus 2011. 

Musim panas ini, Texas memang mengalami kekeringan luar biasa, sekitar 75 persen wilayah ini mengalami kemarau parah. Itu menurut data Badan nasional Mitigasi Kekeringan (NDMC). Negara bagian ini mengharap badai tropis Don menurunkan hujan, namun alih-alih hujan deras, Don hanya mengundang curah hujan 1 hingga 2 inchi di wilayah dekat pantai. 

Kekeringan juga menyebabkan benberapa waduk di Texas Barat kering. "Tahun lalu kami meneliti waduk itu, dan menemukan banyak populasi ikan di dalamnya," kata Cruz. Yang terjadi saat ini memprihatinkan. "Level air danau makin menurun, dan ikan-ikan di dalamnya mati mengambang. Ini sangat memprihatinkan." 

Pekan lalu, tambah Cruz, danau yang luas hanya menyisakan kolam kecil air yang dalamnya beberapa kaki. Ada ribuan ikan yang mati, tak ada tanda-tanda kehidupan di danau itu. 

Gambar kolam darah di Waduk OC Fisher menyebar melalui internet dan forum-forum di dunia maya. Seorang pendeta dari Indiana, Paul Begley, dalam sebuah video di YouTube mengatakan, danau itu mungkin adalah pertanda kiamat seperti yang tertera dalam kitab suci. 

"Malaikat kedua menumpahkan mangkuknya ke laut, dan mengubahnya menjadi merah darah, seperti orang mati. Dan apapun yang ada di dalam laut mati," kata Begley. Lalu, 'malaikat ketiga menumpahkan isi mangkuknya ke sungai dan mata air, berubah menjadi darah."

Misteri Hujan Darah Di India




Lebih dari 500.000 liter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Pada mulanya para ilmuwan air hujan yang berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun setelah dilakukan uji laboratorium para ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi.

Hujan yang jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India, bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama di laporkan turunnya hujan berwarna kuning, hijau dan bahkan hitam. Setelah 10 hari intensitas hujan mulai mereda hingga September.

Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung selama 20 menit. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang di jemur berubah warna menjadi merah seperti darah. Penduduk lokal juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.

Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi.

Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Pertama kali mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab.

Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari Gurun Sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup.


Misteri, Hujan, Darah, Di, India

Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya.

Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi. Setiap meter kubik sampel yang diambil, terdapat 100 gram unsur merah. Jadi apabila dijumlah, maka dari Juli hingga September terdapat 50 ton partikel merah yang tercurah ke Bumi.

Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologis bernama Milton Wainwrightmengkonfirmasi bahwa unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya.

Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori bahwa partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung seperti sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.

Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstra terestrial. Louis menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.

Sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandiayang bernama Patrick McCafferty menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor.

McCafferty menganalisa 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu atau madu yang turun dari langit.

36 persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia dan Inggris abad pertengahan dan bahkan Kalifornia abad ke-19.

McCafferty mengatakan, "Kelihatannya ada hubungan yang kuat antara laporan hujan berwarna dengan aktivitas meteor, Hujan merah Kerala cocok dengan pola-pola tersebut dan tidak dapat diabaikan begitu saja."

Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi ? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini. Namun sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan oleh ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe, teori yang disebut Panspermia, yaitu sebuah teori yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi ini berasal dari luar angkasa.

Menurut kedua ilmuwan tersebut pada mulanya di luar angkasa terdapat awan gas antar bintang yang mengandung bakteri. Ketika awan itu mengerut karena gravitasi untuk membentuk sistem bintang, bakteri yang ada di dalamnya tetap bertahan hidup di dalam komet.

Ketika komet itu terkena sinar matahari, panas matahari mencairkan permukaan es pada komet, bakteri-bakteri tersebut lolos dan tersapu ke planet-planet terdekat. Teori ini juga didasarkan pada argumen Charles Darwin bahwa sesungguhnya bakteri memiliki karakteristis 'luar bumi'.

Video Hujan Darah Di India

Dari berbagai sumber 

============================================================================================================

Hujan Darah Di India


Hujan Darah Di India – Kembali terjadi fenomena alam yng tak kalah mengejutkan setelah pernah di temukan Misteri Segitiga Bermuda. Atau misteri yng terjadi karena adany kejadian / peristiwa alam seperti halny Benua Atlantis. Kali ini terjadi di Negara Bagian Kerala India. Hujan Darah Di India, seperti itulah tersebar berita dr berbagai infotaiment. Misteri ini terjadi sekitar 25 Juli 2001 hingga september 2001, sudah lumayan lama juga sebenarny.
Hujan Darah Di India
Hujan yng pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama dilaporkan adany turun hujan berwarna kuning, hijau lalu hitam.
Setelah 10 hari, intensitas curah hujan mereda hingga September. Baru kemudian menyusul Hujan Darah Di India.
Hujan Darah Di India tersebut turun hanya pada wilayah yng terbatas dan hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan.
Penduduk lokal melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yng mendahului turunnya hujan yng dipercaya sebagai ledakan meteor.
Lebih dari 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi hingga di nyatakan Hujan Darah Di India. Pada mulanya ilmuwan mengira Hujan Darah Di India ini disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yng sangat mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut ternyata adalah sel hidup, namun di ketahui sel ini bukan berasal dari bumi.
Hujan Darah Di India
Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi.
Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Awalny mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab.
Karena hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari gurun sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris.
Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yng hidup. Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya. Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi.

~ Menurut para ilmuwan, Hujan Darah Di India terjadi kemungkinan batu meteor yng meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung seperti sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.
~ Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya sebelum Hujan Darah Di India tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstra terestrial. Louis menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.
~ Jika di hubungkan dengan hal-hal gaib, banyak juga yng mengatakan bahwa kejadianHujan Darah Di India adalah akibat dari Para Malaikat yng sedang berperang Melawan Setan. (Ada – ada aja tuh :? )

Penyebab terjadinya hujan darah terungkap !!

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan fenomena alam 'Hujan Darah' yang terjadi di Aceh. Ternyata fenomena ini juga pernah terjadi di India. Namanya aja 'nyeremin', jadi membangkitkan praduga-praduga yang 'nggak-nggak'. Ada yang bilang serangan alien, sampai tanda-tanda akhir zaman.

Begitu dengar berita ini, saya langsung melakukan 'investigasi' (Gayanya...kayak detektif aja :-)), maksudnya cari-cari info lewat Internet kenapa fenomena 'Hujan Darah' bisa terjadi. Dan saya menemukan sebuah pernyataan resmi dari sebuah lembaga yang didaulat oleh Departemen Sains dan Teknologi India untuk menyampaikan penyebab terjadinya fenomena 'Hujan Darah'.

Pada awalnya CESS (Centre for Earth Science Studies) mangatakan bahwa kemungkinan penyebab 'Hujan Darah' adalah meteor yang meledak, yang menyebarkan sekitar 1.000 kg material. Tapi beberapa hari kemudian, CESS mencabut pernyataan tersebut. Mereka bilang, setelah mejalankan evaluasi Basic Light Microscopy, yang membuat hujan berwarna merah adalah partikel yang menyerupai spora. Ditambah lagi karena hasil ledakan meteor tidak mungkin terus jatuh dari stratosfer menuju wilayah yang sama saat tidak terpengaruh oleh angin.

Karena ini adalah spora maka sampel diserahkan kepada Tropical Botanic Garden And Research Institute (TBGRI) untuk dilakukan studi mikrobiologi.

Akhirnya, pada bulan November 2001, CESS dan TBGRI ditugaskan oleh Departemen Sains dan Teknologi India untuk mengeluarkan laporan bersama yang menyimpulkan bahwa ;

"Warna merah disebabkan karena adanya sejumlah besar spora dari ganggang membentuk lumut-dari jenis Trentepohlia. Verifikasi lapangan menunjukan bahwa kawasan itu punya banyak lumut jenis tersebut. Contoh lumut diambil dari Changanacherry, saat dikultur dalam media ganggang juga menunjukkan adanya spesies yang sama dari ganggang. Kedua sampel (dari air hujan dan dari pohon-pohon) juga dihasilkan dari jenis alga yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa spora yang terlihat pada air hujan paling ,
Penyebab terjadinya hujan darah terungkap !!  (Image 1)Penyebab terjadinya hujan darah terungkap !!  (Image 2)
================================================================================

1. Hujan Darah

 

Hujan yang satu ini mungkin menjadi hujan paling mengerikan. Fenomena hujan darah pernah terjadi di India pada Februari lalu.

Tak hanya karena warna iar hujannya yang berwarna merah, setelah diteliti ternyata air hujan itu memang mengandung sel darah merah. Fenomena ini berhasil diabadikan dalam sebuah video yang tersebar luas di dunia maya.

============================================================================

Bumi selalu menghadirkan berbagai fenomena aneh penuh misteri yang sulit terungkap.

Tak sedikit orang yang menghubung-hubungkan berbagai fenomena aneh yang terjadi sebagai tanda akan terjadinya sesuatu yang buruk, atau paling ekstrim sebagai pertanda kalau kiamat sudah dekat!

Seperti kejadian di India yang terekam dalam video ini. Hujandarah melanda salah satu wilayah di negara tersebut.

Kesimpulan hujan mengandung darah ini, bukan hanya karena warnanya yang merah, tetapi berdasarkan hasil penelitian sampel air hujan yang dilakukan peneliti, membuktikan bahwa benar adanya kalau dalam sampel air hujan tersebut memang mengandung sel darah merah (eritrosit), yang dalam tayangan video ini ditunjukan dengan bentuk bulat pipih menyerupai donat.
Hujan Merah

Dari tanggal 25 Juli hingga 23 September 2001, hujan berwarna merah terjadi di negara bagian Kerala, India. Air hujan yang jatuh berwarna merah. Warna kuning, hijau dan hitam juga dilaporkan ada. Hujan berwarna dilaporkan telah ada di Kerala sejak tahun 1896 dan beberapa kali setelahnya.
Diumumkan bahwa hujan ini diwarnai oleh jatuhan radio aktif ledakan meteor, tetapi penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah Indiam elaporkan bahwa hujan ini berwarna akibat spora airborne dari alga lokal. Ada juga yang mengusulkan bahwa partikel berwarna tersebut merupakan sel ekstraterestial. Teori ini diusulkan oleh Godfrey Louis dan Santhosh Kumar dari Universitas Mahatma Gandhi di Kottayam.

Profesor Wickeramasinghe yakin bahwa kehidupan berasal dari angkasa. Hal ini berpangkal dari hujan merah aneh di kawasan India sebelah Selatan juli 2001 silam. Setelah hujan berlalu, orang-orang menemukan benda misterius. Ilmuwan menyebutkan, bahwa (titik) hujan merah cemerlang ini besar kemungkinan mengandung jejak kehidupan makhluk angkasa luar. Menurut laporan The Sun Inggris, bahwa ketika meteor melintas di angkasa dan meledak setelah terjadi gesekan atau berbenturan dengan atmosfer bumi, dimana dalam 2 bulan secara kontinue, sejumlah besar titik hujan berwarna merah cemerlang.
Menurut laporan BBC, ketika itu penduduk setempat mengira hujan merah yang aneh itu adalah pertanda datangnya kiamat. Namun pemerintah daerah setempat mengklarifikasinya: Hujan merah ini hanya merupakan debu padang pasir dari kawasan Arab.

Tapi doktor Gofrey Louis dan Sejawatnya Wickeramasinghe dari Universitas Gandhi menuturkan, bahwa dalam cairan-cairan merah tersebut, dimana secara “biologis mengandung suatu partikel hidup warna merah yang mirip dengan sel”. Mereka menuturkan, bahwa partikel-partikel merah tersebut seperti suatu kehidupan yang berasal dari angkasa luar, paling tidak ada 5 ton partikel demikian yang mengumpulkan karbon dan gas yang kemudian membentuk titik hujan berwarna merah cemerlang dan jatuh ke bumi.

Kesimpulan doktor Godfrey Louis ini berdasarkan sejumlah sel binatang yang sangat kecil yang ditemukannya dalam hujan merah ini, semua sel-sel ini tidak ber-DNA. Sedangkan sel semua makhluk hidup di bumi mesti memiliki DNA!
Belakangan ini, pendapatnya itu telah menimbulkan kontroversial di antara para ilmuwan di seluruh dunia. Dan perdebatan tentang asal muasal sel-sel misterius ini pun muncul karenanya.

Dan baru-baru ini, satuan produksi Horizon BBC menemani profesor Wickeramasinghe berangkat ke selatan India untuk menyelidiki lebih lanjut terhadap hujan merah ketika itu. Di India Wickeramansinghe bertemu dengan doctor Louis, kemudian mereka mewawancarai sejumlah saksi mata hujan merah tersebut. Di saat yang sama Wickeramasinghe juga meninjau tugas terbaru doktor Louis.

Doktor Louis mempertunjukkan mikroba angkasa yang ditemukan dalam hujan merah tersebut yang diluar dugaan dapat menahan suhu panas setinggi 300?C! melihat itu Wickeramasinghe lantas meyakini bahwa hujan merah itu merupakan suatu bentuk kehidupan dari angkasa luar.
Wickeramasinghe menuturkan : “sebelum ke India, saya masih ragu apa benar hujan merah ini adalah tamu dari luar angkasa. Namun, setelah tiba di India, saya sangat yakin atas hal ini!

Bersamaan dengan itu, Badan Antariksa Nasional AS masih meneliti daya tahan bakteri di bumi terhadap keadaan yang ekstrem dingin itu. Dan hasilnya ditemukan, bakteri-bakteri tertentu ini memiliki daya tahan yang sulit dipercaya terhadap ekstrem dingin ataupun panas, cukup mengikuti sebuah meteorit melintasi angkasa menuju bumi.

Profesor Wickeramasinghe menuturkan : “dalam perjalanannya ke bumi, bakteri-bakteri ini mesti menahan suhu yang ekstrem rendah, ruang hampa udara, sinar ultraviolet, sinar kosmos, sinar x dan faktor-faktor lainnya di angkasa.”

Dalam 10 tahun belakangan ini, ilmuwan semakin serius menyikapi Panspermia (teori embrio asing) ini. Minat penyelidikan NASA terhadap kehidupan di luar angkasa juga semakin kuat. Dan sehubungan dengan hal ini mereka membuat sebuah kapal selam yang dikendalikan robot, yang direncanakan untuk mencari tanda-tanda kehidupan di samudera yang banyak terdapat satelit di Jupiter. Dan saat ini kapal selam ini tengah di uji coba pelayarannya di suatu danau di negara bagian Texas, AS.

Seandainya kehidupan awal benar-benar dari planet luar, maka semua makhluk hidup di bumi termasuk manusia berasal dari evolusi kehidupan pertama ini. Dan jika ditilik dari pengertian ini, bukankah kita semua ini merupakan makhkluk angkasa luar dalam arti tertentu.


Fenomena Alam Akhir Zaman




Hujan Darah, Hujan Ikan dan Hujan Ular

Menurut ilmuwan setempat unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi

Misteri Hujan Berwarna Merah di India (Hujan Darah)

Misteri memang tidak pernah punah dari dunia ini. Kini, mari kita ungkap misteri hujan darah di India ini dengan sains. Anda semua juga bisa melihat video hujan darah India ini di bagian paling bawah!

Inilah penjelasan hujan darah atau hujan merah ini

Lebih dari 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Pada mulanya ilmuwan mengira air hujan yang berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi !

Menurut ilmuwan setempat unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi

Hujan yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama dilaporkan turunnya hujan berwarna kuning, hijau dan bahkan hitam. Setelah 10 hari, intensitas curah hujan mereda hingga September.

Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah seperti darah. Penduduk lokal juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.

Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi.

Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Pertama kali mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab.

Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari Gurun Sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup.
Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya.
Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi. Setiap meter kubik sampel yang diambil, terdapat 100 gram unsur merah. Jadi apabila dijumlah, maka dari Juli hingga September terdapat 50 ton partikel merah yang tercurah ke Bumi.
Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologis bernama Milton Wainwright mengkonfirmasi bahwa unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya.
Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori bahwa partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung seperti sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.
Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstra terestrial. Louis menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.
Sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandia yang bernama Patrick McCafferty menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor.
McCafferty menganalisa 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu atau madu yang turun dari langit.
36 persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia dan Inggris abad pertengahan dan bahkan Kalifornia abad ke-19.
McCafferty mengatakan, "Kelihatannya ada hubungan yang kuat antara laporan hujan berwarna dengan aktivitas meteor, Hujan merah Kerala cocok dengan pola-pola tersebut dan tidak dapat diabaikan begitu saja."
Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi ? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini. Namun sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan oleh ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe, teori yang disebut Panspermia, yaitu sebuah teori yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi ini berasal dari luar angkasa.
Menurut kedua ilmuwan tersebut pada mulanya di luar angkasa terdapat awan gas antar bintang yang mengandung bakteri. Ketika awan itu mengerut karena gravitasi untuk membentuk sistem bintang, bakteri yang ada di dalamnya tetap bertahan hidup di dalam komet.
Ketika komet itu terkena sinar matahari, panas matahari mencairkan permukaan es pada komet, bakteri-bakteri tersebut lolos dan tersapu ke planet-planet terdekat. Teori ini juga didasarkan pada argumen Charles Darwin bahwa sesungguhnya bakteri memiliki karakteristis 'luar bumi'.
Hujan Darah Juga Pernah Terjadi di Pangalengan
"Ketika itu, kejadiannya sekitar juli 2009. awan mendung menghiasi langit pangalengan, tiba2 hujan pun terjadi. dalam 5 menit hujan itu berlangsung normal dan tidak terlalu deras, namun setelah itu tiba-tiba airnya berubah menjadi merah. saya kira itu hal biasa tetapi kok lama-kelamaan jadi seperti darah? Hujan darah itu berlangsung selama kurang lebih 1 menit dan setelah itu hujanpun mereda. Serentak warga pun keluar rumah dan heran dengan apa yang terjadi. Mereka menyimpulkan bahwa hal itu adalah hal gaib. Sayapun sama. Warga sempat ketakutan dan keesokan harinya warga langsung mengadakan 'hajat buruan'. Selengkapnya lihat di sini (http://rajaforum.com/thread-58.html)
Fenomena Alam: Hujan Ikan, Hujan Katak, Hujan Ular
Kalau ada yang mengatakan hujan, yang terpikir dan terbayang oleh banyak orang adalah hujan air, hujan es atau yang paling ekstrim hujan batu yang mungkin terjadi karena ada gunung meletus dan lain sebagainya. Namun pernahkah anda tahu, kalau di beberapa negara ada hujan katak, hujan ikan, hujan ular?
Seperti diberitakan di erabaru, pada 1578, tikus kuning besar berjatuhan dari langit di atas Bergen, Norwegia.
Pada Januari 1877, prestisius ilmuwan Amerika mencatat adanya hujan ular yang ukurannya mencapai 20 inci di Memphis, Tennessee.
Pada Februari 1877, serpihan benda berwarna kuning berjatuhan di Penchloch, Jerman. Benda tersebut dilaporkan memiliki ukuran tebal, beraroma dan melesat seperti anak panah, bijih kopi serta bulatan cakram.
Pada Desember 1974, hujan telur rebus terjadi selama beberapa hari pada sebuah sekolah dasar di Berkshire, Inggris.
Pada 1969, hujan darah dan daging terjadi di sebagian besar wilayah Brasil.
Pada 1989, boneka kayu dengan kepala terbakar atau terpotong jatuh dari langit di atas kota Las Pilas, Cantabria.
Pada 2007, hujan anak katak terjadi di Alicante, Spanyol dan hujan laba-laba turun di Cerro San Bernardo, Salta, Argentina. Seorang pembaca Epoch Times telah mengambil foto dari peristiwa tersebut.
Pada 31 Juli 2008, hujan darah (laporan yang telah ditetapkan berdasarkan analisa laboratorium) di kota Choco, Kolumbia.
Hujan Ikan di Australia
Sebuah laporan Northern Territory News telah memberikan bukti bahwa makanan yang jatuh dari langit lebih dari sekedar legenda. Dilaporkan bahwa pada 25 dan 26 Februari, hujan ikan terjadi di Lajamanu, Australia, 200 mil dari pantai.
Ikan tersebut yang diyakini sebagai jenis ikan kecil putih bernama Spangled Perch, yang umumnya terdapat di Australia bagian utara. Menurut Balmer, ikan itu masih hidup ketika berjatuhan.
Beberapa penduduk dari Lajamanu, Maningrida dan Hermannsburg telah mengungkapkan pengalaman mereka tentang hujan ikan tersebut kepada Northern Trreitory News. Salah satu dari mereka mengatakan, ketika ia masih kanak-kanak, sejumlah temannya pergi memancing di sebuah oval (lapangan sepak bola Australia) saat terjadi hujan ikan.
Penduduk desa Yoro, Honduras, telah terbiasa mempersiapkan wadah seperti ember dan baskom untuk menadah hujan ikan yang turun dari langit setiap tahun antara bulan Mei dan Juli.
Meskipun tidak ada kasus lain sebagai siklus dan terjadi berulang-ulang seperti di Yoro, hujan hewan air, amfibi dan lainnya yang lebih aneh telah terjadi di wilayah lain.
Ilmuwan AS, Charles Fort (1874-1932) selama bertahun-tahun mempelajari terjadinya hujan aneh. Ia mengumpulkan sekitar 60.000 kliping dari surat kabar, majalah serta sumber lain tentang sejumlah kejadian luar biasa. Sepanjang karirnya, Fort berhasil mencatat berbagai fenomena hujan seperti hujan koin, ular, perangko China kuno, darah, katak, serangga, kapas, minyak dan zat cair.
Staf senior Biro Meteorologi Australia, Ashley Patterson seperti dikutip Northern Territory News, mencoba menjelaskan terjadinya hujan ikan di Australia. Teorinya tidak jauh berbeda dari sejumlah ilmuwan yang meyakini bahwa ikan kemungkinan disedot ke awan oleh twister, waterspout atau tornado, yang dibawa oleh awan, kemudian jatuh seperti hujan.
"Kencangnya gulungan angin ke udara, [ikan dan air dapat ditarik] hingga 60.000 atau 70.000 kaki," ujar Petterson. "Atau [hal itu] kemungkinan terjadi akibat tornado pada perairan---namun kami belum memiliki laporan,"
Akan tetapi, sebagian besar kasus, teori ini nampaknya tidak menjelaskan mengapa hanya hewan atau benda tertentu yang jatuh dari langit. Mengapa arus angin mampu mengangkat benda seperti katak dari sebuah danau tanpa menyertakan air, lumpur, ganggang maupun spesies lain dari ekosistem yang sama?
Penjelasan tersebut menjadi kurang masuk akal ketika seperti dalam kasus hujan ikan di Australia, di dekat area itu tidak ditemukan danau, laut maupun sungai dan tidak pula terjadi badai maupun tornado yang tercatat pada saat atau selama beberapa hari sebelumnya.
Sebagian juga mencoba menjelaskan sebagai hujan buatan manusia dari sebuah pesawat tanpa sepengetahuan siapapun.
Dalam banyak kasus, orang-orang cenderung menghubungkan fenomena tersebut akibat eksperimen makhluk asing atau dimensi persimpangan, di mana kejadian itu tiba-tiba muncul maupun lenyap dari langit. Dalam beberapa kasus, fenomena ini telah di sangakal.
Hingga kini, hujan material itu sudah tidak diragukan lagi, karena peristiwa ini telah tercatat dalam sejumlah dokumen seperti Alkitab serta dalam tulisan-tulisan Mesir kuno.
Apakah ini penyedot air yang selektif? Apakah merupakan fenomena cuaca yang dapat dijelaskan secara sempurna? Apakah ini merupakan isyarat para Dewa? Apapun masalahnya, pada masa mendatang bila langit nampak gelap sebaiknya anda berhati-hati; mungkin saja hal tersebut bukan hujan air.


=================================================

Hujan Darah Semarakkan Halloween di Inggris

http://travel.okezone.com/read/2012/10/22/407/707375/hujan-darah-semarakkan-halloween-di-inggris

Hujan darah diperkirakan guyur Inggris akhir Oktober (Foto: News)
Hujan darah diperkirakan guyur Inggris akhir Oktober (Foto: News)
BILA akhir Oktober ini Anda berencana pelesir ke Inggris, siap-siap melihat suatu fenomena aneh yang akan membuat Anda tercengang. Bersiaplah, karena hujan darah akan mengguyur London.

Pengamat cuaca mengatakan akhir Oktober nanti akan terjadi hujan darah atau hujan berwarna merah. Hujan ini terjadi karena debu merah dari Gurun Sahara di Afrika akan terbawa angin ke arah Eropa.

Debu tersebut akan bercampur dengan hujan yang diperkirakan mengguyur Inggris sepanjang akhir Oktober, menjadikannya hujan berwarna merah. Demikian seperti dikutip dari News, Senin (22/10/2012).

Turunnya hujan darah ini diperkirakan akan bersamaan dengan perayaan Halloween yang jatuh pada 31 Oktober. Tentunya akan semakin menambah dramatis suasana perayaan yang bernuansa hantu dan monster tersebut.

Wisata Eksotik 'Sungai Darah' di Skotlandia


Wisata Eksotik 'Sungai Darah' di Skotlandia
Istimewa
Sungai darah di Skotlandia 
TRIBUNNEWS.COM - Ada 'Sungai Darah' di Skotlandia. Identik namanya, air yang mengalir dari sungai ini berwarna merah darah, tapi tidak kental seperti darah betulan.
Warna darah pada air sungai karena pengaruh geologi.
Ini wisata eksotik di kawasan Mimbar Setan (Devil's Pulpit) terletak sekitar 183 m dari Deerbery Lane, di dasar Sungai Darah.
Formasi ini terbentuk oleh batuan tinggi di bukit curam yang menghadap ke lembah. Terletak sekitar 150 m di atas permukaan laut, mimbar itu menjulang sekitar 40 m di tas sungai dan memberikan sebuah pemandangan yang menakjubkan.
Satu-satunya penanda peradaban adalah menara telekomunikasi di kejauhan. Beragam pohon bisa dilihat di mana-mana. Bahkan beberapa dari mereka tumbuh di puncak bebatuan.

Sungai Berwarna Merah Di Tanjung Tinggi

Umumnya warna air sungai adalah putih jernih seperti kaca namun khusus di pantai Tanjung Tinggi Belitung disalah satu sisinya warna air sungai tersebut adalah merah ini bukanlah efek sinar matahari yang membayang saat sunset tetapi warna airnya memang benar-benar merah warna merah ini didapatkan adanya zat-zat warna merah yang berasal dari akar dan pohon-pohon yang ada dipinggir-pinggir aliran sungai 












Mengerikan ! Hujan darah di Kolombia
   

Hujan Darah! Pada tahun 2008, hujan berwarna merah yang dipastikan oleh bakteriolog setempat sebagai darah jatuh pada sebuah komunitas kecil di La Sierra, Choco. Sebagian sampel diambil dan analisis, dan hasilnya menunjukkan bahwa air itu darah.

Orang yang dituakan di dusun tersebut mengatakan bahwa ini merupakan tanda dari Tuhan bahwa manusia harus menghentikan perbuatan-perbuatan dosa yang mereka lakukan

Hujan Darah di Srilanka


Menurut sumber Departemen Meteorologi  Srilanka, hujan berwarna merah darh turun deras di daerah-daerah pedalaman Srilanka dan penyebat dari peristiwa tersebut belum ditemukan. Hujan Merah di Sewanagala dan Manampitiya meninggalkan jejak cairan merah beku di tanah. Ini adalah peristiwa pertama kalinya hujan merah darah disaksikan di Sri Lanka. Direktur Medical Research Institute (MRI), Dr Anil Samaranayake telah melakukan penelitian untuk memastikan penyebab peristiwa  hujan merah dengan mengambil sampel air dari Monaragala dan Polonnaruwa. Peningkatan keasaman badai udara dan pasir adalah alasan yang biasa untuk membrikan alasan logis terhadap peristiwa hujan merah. Namun, peristiwa badai pasir tidak pernah terjadi di Sri Lanka. India pernah mengalami peristiwa hujan merah tahun lalu dan ilmuwan India menemukan berbagai organisme mikro sebagai alasan untuk peristiwa hujan mengerikan ini. Karena organisme mikro tidak memiliki  DNA, mereka menduga itu menjadi fenomena aneh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar