
Penelitian terkini menunjukkan bahwa anak yang bertumbuh kembang tanpa ayah akan mengalami gangguan dalam perilakunya, dan bahkan membuat struktur otaknya berubah. Demikian hasil riset yang dilakukan McGill University Health Center dan dimuat dalam jurnal Cerebral Cortex.
Kelinci percobaan dalam riset ini adalah sejumlah tikus California, yang dianggap menyerupai manusia karena bersifat monogami dan mengasuh anak dalam kesatuan.
Tikus-tikus yang dipisahkan dari ayahnya akan menunjukkan sifat agresif lebih banyak, anti-sosial, dan interaksi sosial yang abnormal, dibandingkan dengan para tikus yang diasuh bersama ayah dan ibunya.
Selain itu, ketiadaan ayah dalam tumbuh kembang anak juga menimbulkan cacat otak di bagian prefrontal cortex (bagian otak yang mengatur perilaku, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah).
"Hasil yang kami dapatkan adalah pentingnya seorang ayah selama periode perkembangan saraf kristis. Ketiadaan ayah menyebabkan gangguan perilaku sosial yang bisa bertahan hingga anak itu dewasa," demikian isi laporan tersebut.
Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan Peggy T. Kettenis bahkan menyatakan bahwa kurangnya figur ayah dalam kehidupan anak akan membuat identifikasi anak laki-laki lebih kuat kepada figur kewanitaan. Sebuah survei pun menunjukkan bahwa sebagian terbesar dari wanita tuna susila berasal dari keluarga tanpa ayah.
Parahnya akibat yang ditimbulkan saat anak tumbuh tanpa figur ayah menegaskan bahwa orangtua lengkap seperti yang Tuhan kehendaki (ayah dan ibu) merupakan kombinasi yang baik, meski tak selalu sempurna. Namun demikian, baik peran ayah maupun ibu sama-sama berkontribusi penting bagi masa depan buah hati mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar